Lalu Drona melanjutkan, menunjuk ke arah timur. "Di sini dulunya suku Raksa. Mereka adalah petarung. Jika kau bisa meyakinkan mereka untuk bergabung, mereka akan menjadi sekutu yang sangat kuat. Tapi kau harus siap dengan kepribadian mereka yang keras. Mereka menghormati kekuatan, bukan kata-kata." Drona menghela napas dan dengan sedih berkata " Mereka pernah mencoba menyerang markas Monrest, tetapi gagal. Akibatnya, Monrest memburu mereka dengan ganas. Sekarang mereka sering mencuri dari suku lain untuk bertahan hidup dan pindah-pindah."

Drona menggambar garis lain yang mengarah ke tenggara. "Kemudian ada suku Yaksa. Mereka ahli dalam navigasi sungai dan sering membantu orang melarikan diri dari Monrest. Tapi mereka sangat paranoid. Serangan Monrest sering mengincar mereka, jadi mereka tidak mudah percaya pada siapa pun."

Akhirnya, Drona menunjuk ke rawa di bagian selatan pulau. "Suku Auksa ada di rawa-rawa ini. Mereka tidak terlalu suka berinteraksi dengan suku lain, tapi mereka memiliki keahlian membuat racun yang tidak tertandingi. Kalau kau bisa mendapatkan kepercayaan mereka, racun mereka bisa menjadi senjata besar kita. Monrest juga memburu mereka, dan setiap kali mereka ditemukan, Monrest menghancurkan segalanya. Jumlah mereka sekarang sangat sedikit."

Lynx memperhatikan peta kasar itu dengan saksama. "Jadi ada empat suku yang harus kudekati. Uksa, Raksa, Yaksa, dan Auksa."

Drona mengangguk. "Benar. Tapi hati-hati, Lynx. Setiap suku punya budaya dan kebiasaan yang berbeda. Kau harus memahami mereka sebelum mencoba mengajak mereka bergabung."

Drona berhenti sejenak, menatap Lynx dengan serius. "Ada satu hal lagi yang harus kau tahu. Di belahan pulau sana, Monrest punya mata-mata yang tersebar di mana-mana. Mereka selalu mengawasi. Jika kau ditemukan, mereka tidak akan ragu untuk memburu dan membunuhmu."

"Aku sudah siap menghadapi mereka," jawab Lynx dengan tegas. "Aku tidak punya pilihan lain. Kita harus melawan."

"Kalau begitu, kau harus bergerak cepat," kata Drona. "Semakin lama kita menunggu, semakin besar kekuatan Monrest. Tapi ingat, ini bukan hanya soal kekuatan. Kau harus menggunakan kecerdikanmu untuk memenangkan hati suku-suku ini. Jika kau berhasil, kita punya peluang untuk mengalahkan Monrest. Jika tidak…"

Drona tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Lynx mengerti.

"Ada satu hal yang aku bingungkan," Kata Lynx setelah dia berusaha memahami. "Dari peta ini jika kita bagi dua, terlihat area suku-suku ada di sebelah timur pulau, sementara di sebelah barat pulau justru tidak ada suku yang tinggal di tempat ini." Katanya dengan keheranan.

"Tanpa petunjuk kamu, dan kepercayaan orang-orang kami kepadamu. Sebenarnya suku kami tidak berani ke wilayah ini. Tapi kepala suku sudah membahasnya agar kami harus mempercayaimu, karena kami yakin bahwa kamu adalah orang yang ditunjuk untuk membebaskan kami." Kata Drona mulai menjelaskan. "Wilayah sebelah sini, sebenarnya area yang sangat berbahaya. Banyak suku-suku yang mencoba ke tempat ini tidak pernah kembali sehingga mereka semua hanya menempati area-area yang mereka anggap aman." Lanjutnya.

"Baiklah, aku paham sekarang. Kalian pasti aman disini, tempat ini sudah kita buat sekuat mungkin. Dengan kerjasama kita semua, ditambah penghalang alami, membuat aku lebih tenang meninggalkan tempat ini. Aku akan segera pergi," kata Lynx, suaranya penuh tekad. "Aku tidak tahu seberapa sulit perjalanan ini, tapi aku tidak akan menyerah."

Drona tersenyum kecil, meskipun matanya dipenuhi kekhawatiran. "Kalau begitu, pergilah. Tapi jangan lupa, kamu membawa harapan suku ini bersamamu. Kami semua percaya padamu."

Lynx menatap Drona dengan rasa hormat yang mendalam. "Aku tidak akan mengecewakanmu. Kita akan melawan, dan kita akan menang."

Setelah berbicara dengan Drona, Lynx berjalan melewati perkemahan yang mulai sepi. Malam telah larut, dan sebagian besar penduduk Sinto sudah masuk ke dalam pondok mereka. Ia berhenti di depan rumah Leena, sebuah bangunan sederhana yang terlihat lebih hangat dengan cahaya obor dari dalam.

Lynx mengetuk pintu perlahan. "Leena, ini aku."

Pintu terbuka, dan Leena muncul dengan wajah sedikit terkejut. "Lynx? Ada apa malam-malam begini?"

"Aku ingin bicara denganmu," jawab Lynx dengan suara pelan tapi serius. "Boleh aku masuk?"

Leena mengangguk dan memberinya ruang. Di dalam, suasana terasa nyaman, dengan aroma bunga kering dan ramuan herbal yang menggantung di sudut ruangan. Lynx duduk di atas anyaman jerami, sementara Leena mengambil tempat di depannya.

"Aku akan pergi besok," kata Lynx langsung, tanpa basa-basi.

Leena menatapnya dengan dahi berkerut. "Pergi? Ke mana?"

Lynx menghela napas, lalu mulai menjelaskan rencananya. Ia berbicara tentang pentingnya mencari sekutu dari suku-suku lain, bahaya yang mengintai di perjalanan, dan betapa krusialnya langkah ini untuk menghadapi Monrest.

"Jadi, aku harus berangkat sendiri," kata Lynx akhirnya. "Aku butuh kecepatan dan kelincahan, dan dengan kekuatanku, aku bisa bergerak lebih cepat tanpa perlu memikirkan orang lain."

Leena menatapnya dengan tajam. "Jadi maksudmu, aku hanya akan menghambatmu?" Nada suaranya terdengar terluka.

"Bukan begitu, Leena," kata Lynx, mencoba meredakan emosinya. "Ini bukan soal kau menghambatku. Aku hanya ingin kau aman di sini. Jika sesuatu terjadi di perjalanan, aku tidak tahu apakah aku bisa melindungimu."

Leena berdiri, matanya mulai berkilat. "Lynx, aku bukan anak kecil yang perlu dilindungi sepanjang waktu! Kau tahu aku bisa bertarung. Aku sudah membuktikannya berkali-kali. Jadi kenapa kau tidak membiarkanku ikut?"

Lynx ikut berdiri, menatapnya dengan sabar. "Leena, dengarkan aku. Kau benar, kau kuat. Tapi aku tidak mau mengambil risiko kehilanganmu. Kalau kau tinggal di sini, kau bisa membantu menjaga perkampungan ini bersama Karim dan yang lainnya."

Leena mendengus, melipat tangannya di dada. "Jadi, aku hanya berguna di sini? Kau benar-benar meremehkanku."

"Bukan begitu," kata Lynx sambil mendekatinya. Ia meraih tangan Leena dengan lembut, mencoba menenangkan. "Leena, aku butuh kau di sini. Percayalah, aku tidak bisa melakukan ini tanpa tahu kau aman."

Leena masih memandangnya dengan ekspresi marah, tapi kemarahannya mulai mereda. Ia mendesah panjang, melepaskan genggaman Lynx, lalu duduk kembali. "Aku hanya ingin membantumu," katanya pelan.

Lynx tersenyum kecil, lalu duduk di sebelahnya. "Kau sudah banyak membantuku, lebih dari yang bisa kukatakan."

Leena menoleh padanya, dan tiba-tiba, tanpa peringatan, ia memeluk Lynx erat. Lynx terkejut sesaat, tetapi ia segera membalas pelukan itu. Leena mendongak, dan sebelum Lynx sempat mengatakan apa-apa, ia menciumnya.

Ciuman itu dalam, penuh perasaan yang tertahan selama ini. Mereka tidak berkata-kata, hanya saling mencurahkan apa yang tidak mampu mereka ucapkan. Setelah beberapa saat, mereka berbaring di lantai jerami, masih saling memeluk, berbicara tentang banyak hal—tentang perjalanan mereka sejauh ini, tentang masa depan, dan tentang harapan mereka untuk pulau ini.

"Aku percaya padamu," bisik Leena akhirnya, kepalanya bersandar di dada Lynx. "Tapi aku tetap tidak suka kau pergi sendirian."

Lynx tersenyum kecil, mengusap rambutnya. "Aku akan kembali, Leena. Aku janji."

Keesokan paginya, Lynx dibantu Leena, mulai mempersiapkan dirinya untuk perjalanan panjang yang penuh risiko. Ia tahu, tantangan yang akan dihadapinya tidak hanya datang dari Monrest, tetapi juga dari kepercayaan dan hubungan yang harus ia bangun dengan suku-suku lain. Namun, ia yakin bahwa kerja sama adalah satu-satunya jalan untuk mengalahkan Monrest dan menyelamatkan pulau ini.

Setelah bersiap-siap, Lynx dan Leena berdiri di tengah lapangan latihan. Leena membawa tombaknya, sementara Lynx hanya bersenjatakan tongkat kayu.

"Aku ingin memastikan kau bisa menjaga dirimu di sini," kata Lynx. "Kita berlatih sebentar."

Leena mengangkat alis. "Jadi sekarang kau ingin mengujiku?"

"Anggap saja begitu," jawab Lynx sambil tersenyum. "Ayo, serang aku."

Leena tidak membuang waktu. Ia menyerang dengan cepat, tombaknya meluncur ke arah Lynx. Lynx menghindar dengan gesit, menggunakan kekuatan supernya untuk bergerak dengan kecepatan luar biasa. Tapi Leena tidak menyerah, ia terus menekan, serangan-serangannya semakin tajam dan terarah.

"Bagus," kata Lynx, memuji. "Kau semakin cepat."

"Dan aku juga semakin kuat," balas Leena, mengayunkan tombaknya dengan tenaga penuh. Lynx berhasil menangkis serangan itu, tetapi kekuatan Leena cukup untuk membuatnya mundur selangkah.

Setelah beberapa menit, Lynx mengangkat tangan, memberi tanda untuk berhenti. "Kau sudah siap," katanya, napasnya teratur meski ia jelas mengeluarkan tenaga besar. "Kau bisa menjaga dirimu di sini."

Leena tersenyum kecil, meskipun matanya masih penuh kekhawatiran. "Kalau begitu, jangan membuatku menunggu terlalu lama."

Di aula pertemuan kecil di tengah perkampungan, Lynx berdiri di hadapan Karim, kepala suku, Nenek Drona, Leena, dan Sherly. Suasana tegang terasa, terutama dengan Sherly yang sejak awal pertemuan tampak tidak puas. Lynx mengambil napas dalam-dalam sebelum memulai.

"Aku akan pergi hari ini," katanya, mencoba terdengar tegas meski tahu ada ketegangan di ruangan itu. "Kalian tahu apa yang harus dilakukan di sini. Jangan biarkan Monrest menemukan kelemahan kita."

Karim mengangguk, ekspresinya serius. "Kami akan menjaga perkampungan ini. Kau lakukan apa yang harus kau lakukan."

Nenek Drona menatap Lynx, matanya yang tajam seperti membaca seluruh niat di dalam hati Lynx. "Jaga dirimu, Lynx. Dan jangan lupa pesan-pesan yang kuberikan."

Lynx tersenyum kecil, mengangguk pada dukun tua itu. Tapi sebelum ia bisa melanjutkan, Sherly melangkah maju, menyilangkan tangan di dada dengan wajah cemberut.

"Jadi kau pergi sendiri?" katanya, nadanya penuh sindiran. "Kau meninggalkan kami di sini, seperti kami ini bebanmu?"

Lynx menatap Sherly, mencoba menenangkan situasi. "Bukan begitu, Sherly. Aku hanya—"

"Bukan begitu?!" Sherly memotongnya, matanya menyala marah. "Kau selalu bilang ingin melindungi kami, tapi sekarang kau malah meninggalkan kami. Apa kau pikir kami tidak cukup penting untuk diperjuangkan bersamamu?"

"Aku melakukannya demi keselamatan kalian semua," jawab Lynx, berusaha terdengar sabar. "Aku bisa bergerak lebih cepat sendiri, dan ini tentang strategi, bukan soal siapa yang penting atau tidak."

Sherly mendengus keras, ekspresinya berubah tajam. "Strategi? Apa itu alasanmu? Atau mungkin kau hanya takut ada orang yang menghalangi kejayaanmu sebagai ‘penyelamat suku ini’?"Ia melangkah lebih dekat, menusukkan kata-katanya seperti panah ke hati Lynx. "Kau ingin jadi pahlawan sendirian, Lynx? Baiklah, pergilah! Tapi jangan salahkan kami jika sesuatu terjadi di sini tanpa kau."


